Wednesday, September 20, 2006

Khidupan Suku Dayak Kenyah (kalimantan timur)

BAB I


A. Masyarakat Adat Senantiasa Arif Mengelola Hutan

­­Kepala Adat Besar suku Dayak Benuaq di Muara Lawa, Kalimantan Timur, Awang Idjau Gelar Mas Arsamuda melontarkan suatu pernyataan yang mencengangkan. Dikatakan bahwa cara kehidupan suku Dayak dapat diibaratkan seperti monyet yang mencari makan dari pohon yang satu ke pohon yang lain secara turun temurun. Pernyataan bermakna kritik itu, ia gelindingkan pada forum temu wicara agrarian di Smarinda (19 Januari 1995), yang dihadiri Asisten Menteri Negara Agraria, Dr. Ir Soerjarwo Siswormiharjo di dampingi Gubernur Kaltim, H.M. Ardan S.H. (Manuntung, 20/1/1995).
Ibarat monyet yang tak terpisahkan dengan pohon dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, demikian pula suku Syak, mereka tak mungkin terpisahkan dengan hutan, begitulah sebenarnya makna kritik yang diungkapkan Awang Idjau, sebagai upaya menolak anggapanbahwa sisem perladangan suku Dayak merusak hutan. Sebab meurut orang Dayak, hutan adalah tumpuan hidup (staff of life), daripadanya keberlandungan kehidupan turun-temurun senantisa terpisahkan. Hutan adalah totalitas kehidupan bagi suku Dayak yang amat menyejarah.
Pada hajatan Lokakaryanya Promosi Sisem Hutan Kerakyatan yang diselengarakan Yayasan Plasma, 24-28 April 1995 di Tenggarong, Awang Idjau kembali menlontarkan pernyataan yang sama dan ternyata mendapat pembenaran dari wakil masyarakat adat Dayak se-Kalimatan yang hadir kala itu. Sistem perladangan orang Dayak “berpindah-pindah” namun senantiasa tetap di wilayah kedaulatan suku Dayak yang telah dikukuhkan oleh hukum adat setempat. “ Tak pernah ada, monyet di Muara Lawa yang mencari makan sampai ke Kalimantan Selatan, demikianpula kami, meski mengupayakan hutan secara “berpindah-pindah”, kami tak pernah berladang sampai ke Kalimantan Barat atau Sumatera karena bukan wilayah kedaulatan kami. Lain dengan orang kaya, tinggal di Jakarta, tapi “berladang di Kalimantan melalui konsesi HPH,” ungkap Awang Idjau dengan tegas.
Persentuhan yang mendalam antara orang Dayak dengan hutan yang berlangsung turun-temurun, telah melahirkan kearifan mereka dalam upaya mengelola sumber daya hutan dan terbukti mampu melestarikan hutan. Bila kita berkata jujur sebenarnya ke handalan orang dayak dalam mengelola sumber daya hutan, bukanlah barang baru. Dr. Anton W. Nieurwenhui, lebih dari seabad yang silam telah menemukan hal itu, sebagaimana terungkap dalam salah satu catatan perjalanannya. Ia katakana demikian, “orang-orang Kayan di Mendalam (Kalimantan Barat) merupakan petani-petani ulung. Mereka terutama mennama padi dan mengenal 17 jenis padi. Mereka menabur sesuai keinginan mereka, apakah harus cepat masak, atau menjadi makanan yang enak, atau sebagai barang dagangan” (Neiuwenhuis, 1994, hal 73)
Orang Dayak Kayan akan mencari lahan yang cocok bagi ladang dengan cara mendengarkan petunjuk burung-burung tertentu tentang di mana ia dapat memulai membuka ladang. Untuk itu, ia memukul pohon dengan sebatang kayu dan memanggil burung yang bersangkutan sampai burung itu memperdengarkan suaranya. Kalau bunyinya datang dari sebelah kanan, tempatnya bagus, bila bunyinya dari kiri, lahannya jelek, sehingga ia akan mencari di tempat lain.
Sesungguhnya, dari pernyataan Awang Idjau maupun Neiuwenhuis membenarkan adanya kearifan lingkungan pada masyarakat adat (Dayak), yakni pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh mereka mencakup hal yang berkenaan dengan model-model pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hutan secara lestari



BAB II


Dayak Kenyah datang dari Apo Kayan berjalan kaki menembus gunung dan hutan secara bergelombang. Bila mereka menemukan tanah yang subur mereka akan mendirikan pondok untuk tempat tinggal mereka apabila ada suku lain yang menghalangi mereka tak gentar maju untuk berperang.
Kalau tanah mulai tandus dan gersang karena kayu-kayu banyak ditebang dan padi sering ditnama, tempat pemukiman pun mereka tinggalkan dan mereka kembali berjalan menembus gunung dan hutan dan akhirnya sampai di pedalaman Mahakam. Daun telinga mereka berlubang karena ada dogeng menuturkan pada waktu pertempuran dilebak Matan, telinga mereka dipanah oleh pasukan Siti Zubaidah dari Gunung Beiah. Kulit mereka putih kekuningan, mata mereka kesipit-sipitan dan ketika terdengar Kalimantan adalah Pulau kemakmuran dari cina mereka berdatangan dan menetap di Kalimantan.
A. Adat Kelahiran Dayak Kenyah
Pada istri dari Suku Dayak Kenyah melahirkan bunyi-bunyian gong dan gendang terus dikumandangkan jangan sampai tangisan anak itu terdengar oleh binatang-binatang dihutan sebab itu adalah pantangan katanya Anakmu akan sial sepanjang Zaman.
B. Upacara Pemberian Nama Dayak Kenyah
Pada sekeluarga harus mengundang seluruh penduduk kampung yang berhak memberi nama adalah nenek, ibu, atau perempuan lain yang berasal dari lingkungan keluarga mereka. Sedangkan laki-laki dan bahkan ayahnya sendiri sangat dipantangkan memberikan nama. Bila anak mereka laki-laki Ayam jantan harus dikorbankan Darahnya diletakan diatas mandau (parang) dan lalu dioleskan ketanah si bayi sebelah kanan dan bersama itu mantra dibacakan “Berilah anak ini air kehidupan”.
C. Pengobatan Oleh Dayak Kenyah
Dukun dari suku dayak bernama Dayung dia bisa menyembuhkan sakit seseorang dengan cara telur ayam di letakan diatas kepala dan yang Dayung pun mengucapkan Mantera yaitu : Ni atau Sio diman, menyat tolong lait nyengau” diterimahkan” tolong berikan air yang dapat menghidupkan’. Kepada sisakit, ayan dibunuh lalu darahnya di teteskan ketubuhnya, kepada hantu-hantu, doa dipanjatkan yaitu semoga penderita disembuhkan. Bila si penderita tidak dapat tertolong di pukulah gong sebagai pemberitahuan kepada penduduk yang ada dikampung atau di hutan bahwa sudah terjadi kematian, lelaki warga kampung bersenjata membacoki dinding Rumah dan tiang-tiang sebagai tanda memerangi hantu-hantu yang mengakibatkan kematian.
D. Kematian Dayak Kenyah
Mayat di berikan diatas tikar sekeluarga si mati berkumpul bertangis-tangisan sambil menyanyikan syair-syair pujian atas jasa almarhum yang telah meninggalkan sikeluarga.
Sementara itu, senjata-senjata perang harus diletakan disamping jenazah. Sungai terdekat dengan kampung disediakan pedoman kaki mayat membujur ke hilir. Kepala mengarah ke hulu menurut arus sungai mengalir. Peti mati, Lungun namanya, jenazah diberinkan bersama harta dan senjata perangnya. Empat hari empat malam mayat disemayamkan. Pemuda-pemuda membuat tekalong atau rumah-rumahan, diatasnya duduk keluarga yang si mati, dihadapan peti mati bertangis-tangisan, sementara itu kepala adat memberikan petuah kepada para pemikul rumah-rumahan.
E. Tabu Kematian Dayak Kenyah
Bila perempuan Dayak kenyah mati melahirkan orang kampung harus di biarkan kalau ditolong membawa bencana utulah perintah dari dewa-dewa.
Penduduk kampung hanya membuatkan peti mati yang diletakan diatas kuburan sedangkan mayat hanya diurus suami sendiri atau saudara dari perempuan yang mati tersebut ke dalam “kiba” (kiba adalah sejenis keranjang berukuran tinggi. Kiba dibuat dari anyaman rotan kiba diusung dibelakang dan diberi tali untuk diusungkan ke kedua ketiak) mayat diletakan pada saat membawa kekuburan jangan melewati rumah orang karena seluruh kampung akan kena bencana sial atau kalah dalam perang itulah peraturan yang diberikan oleh roh nenek moyang.
F. Setangis Dayak Kenyah
Dalam acara upacara setangis di situlah seluruh keluarga menagis pelan-pelan peti mati dimasukan kedalam kubur diiringi bunyi-bunyian kelentengan gong dan gendang. Setangis adalah upacara pemakaman yang diiringi kesenian JAMOK HARANG, main alu dan sabung Ayam. Dalam upacara setangis dihidangkan ketan hitam, roti-rotian telur masak dan segala macam makanan yang lain.
G. Rapat Adat Dayak Kenyah
Para peserta rapat harus berbaju kulit bintang dan bercawat kain hitam sebelum rapat dimulai para peserta rapat memakan bubur tepung beras yakni sebagai lambang persatuan. Sebagai acara kedua para peserta rapat beramai-ramai meminum air “tapai” (tape) sambil menyanyikan lagu-lagu lama, acara ketiga kepala adat dipersilahkan memayungi seekor babi sebagai lambang Perlindungan Tuhan Bunga Malan yang bisa memaafkan kesalahan semua orang. Acara keempat kepala adat dipersilahkan menghidangkan delapan gelas “jakan” (Minuman keras) kepada bangsawan tertinggi dan bila minuman sudah dihabisi barulah rapat boleh dimulai.
H. Tanda-tanda Alam
Bungan Malan adalah nama tuhan mereka dia yang menyampaikan perintah dan permintaan kepada manusia dan sebagai perantaranya adalah BALI UTUNG.
Mereka percaya apabila mereka melihat burung pelatuk dan burung elang terbang berarti kebaikan akan datang tapi apabila burung tersebut terbangnya menghalang atau melintang itu bertanda tibanya kecelakaan karena itu bila mereka menempuh perjalanan dihutan sebaiknya cepat-cepat pulang karena itulah larangan tuhan mereka yang disampaikan dengan perantara binatang. Mereka percaya apabila larangan itu tidak diajarkan Bungan Malan akan murka lalu dikirim hantu-hantu untuk menyiksa manusia. Mereka percaya hantu masing-masing punya nama. Ada yang bernama Bali Meet, Bali Tenget, Bali Ketatang, Bali Li-it dan Bali Sakit. Hantu-hantu adalah piaraan Tuhan Bangun malan yang bisa mencelakakan jiwa seseorang.
I. Upacara Agama Suku Dayak Kenyah
Agama nenek moyang mereka dinamakan Bungan Ibadat mereka tidak teratur dan tertentu mereka beribadat hanya pada saat-saat yang perlu dengan sesajen melimpah-ruah, dan memakan waktu yang lama sering mengadakan pesta, berupa: pesta Erau kepala, Ekoq Mending, dan pesta itulah ibadat mereka.
Erau kepala adalah pesta memohon doa agar Bungan Malan dan Bali Utung memberikan kesuburan kepada tanah ladang yang baru dibuka. Ukaw Mending adalah pesta yang dilakukan ketika kampung ditimpa bencana. Sebelum Ukaq Mending di mulai seluruh penduduk diberitahu untuk ber”tabu” selam tiga hari yaitu: jangan memancing, jangan berburu, jangan menumbuk padi, menjahit, keluar kampung dan jangan pula menerima tamu selama bertabu itu.
Penguasa pesta terus-menerus membaca mantera agar Bungan Malan melenyapkan malapetaka. Erau Bunut adalah pesta pemberian nama yang dilaksanakan semeriah-meriahnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home